31 Oktober 2008

Bagi-Bagi Mop (BB M) #1

Sabu-sabu Biak


Mace Biak ini baru satu kali ke Jakarta.

 

Pada saat petugas periksa barang-barang ternyata dalam tas mace ada isi pinang, sirih dan kapur. Tapi kapur itu mace isi dalam plastik-plastik obat, jadi petugas dorang tahan mace punya tas karena dorang pikir sabu-sabu.

 

Mace sudah jelaskan bahwa itu kapur tapi mereka tidak percaya, baru mereka ambil dengan ujung jari dan rasa, ternyata kapur itu panas dan bakar tenggorokan, akhirnya dorang batuk-batuk.

 

Langsung mace bilang ”Trada mo main terus dengan sabu-sabu dari Biak....huh”

Hahaha..

(Sofice Wakris, Doxem)

 

 

 

 

                                          Sudah lewat 

Pace Sentani baru pulang dari Jakarta langsung cerita sama macenya,

”Di Jakarta perempuan-perempuan kayak malaikat-malaikat cantiknya, baru kalau torang pegang-pegang dorang tidak marah malah dorang balik pegang-pegang torang, aduh enak sekali bikin saya mau balik lagi ke Jakarta”. 

 

Mace langsung ganas tapi dengan tenang dia bilang ”Pa tau kepala desa yang tinggal di sebelah kampung sana itu?”. 

 

Pace bilang ”Iya kenapa, ada hubungan apa dia dengan ma?”. 

 

Langsung mace jawab santai “Ah trada mo, sudah lewat”. 

 

Pace ganas dan bongkar rumah...... 

(Sofice Wakris, Doxem)

19 Agustus 2008

Selamat Ulang Tahun Negeriku Tercinta


"Untukmu Ibu Pertiwi"

Ibu, enam puluh tiga tahun sudah sejak putera puterimu mengumandangkan proklamasi kemerdekaan, bertekad bersatu padu mendirikan negeri ini.
Saat itu semua bersuka cita dan penuh harap akan lahir putera-puteri terbaikmu yang dengan segenap jiwa raganya membawa negeri tercinta ini menuju kejayaan dan kemakmuran yang berkeadilan sosial
Saat itu semua mengangankan putera-puterimu dapat menjadikan negeri subur makmur ini bermartabat dan disegani negeri lain di pergaulan dunia.

Sekarang terkadang aku melihat air mata keharuan menetes dari pelupuk matamu ketika diantara putera-puterimu berhasil menorehkan prestasi terbaiknya di berbagai bidang keahliannya.
Sekarang terkadang aku melihat senyum banggamu mengembang saat diantara putera-puterimu dengan gagah berani membela kehormatanmu mengatasi berbagai ancaman yang muncul dari segala arah.
Sekarang terkadang aku melihat belaian lembutmu atas putera-puterimu yang dengan penuh dedikasi memperbaiki kualitas diri dan lingkungannya dengan berbagai keahlian yang dimiliki.

Namun Ibu, aku lebih sering melihatmu menangis tersedu saat putera-puterimu carut marut dengan berbagai penyakit sosial yang melanda negeri ini, dan diantara putera-puterimu merebak sifat kering rohani yang tanpa nurani menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
Aku sering melihatmu menangis tersedu saat mengetahui diantara putera-puterimu melakukan perbuatan tidak amanah dengan menyalahgunakan kepercayaan yang diberikanmu untuk mengelola kekayaan negeri ini.
Aku sering melihatmu menangis tersedu saat mengetahui diantara putera-puterimu memanjakan dirinya dengan kenikmatan semu yang diberikan setan narkoba, pornografi, pornoaksi, seks bebas, dan berbagai perbuatan hina lainnya.
Dan Ibu, aku sering melihatmu merintih sedih saat mengetahui diantara putera-puterimu masih ada yang berhasrat untuk memisahkan diri dari pangkuanmu karena merasa putera-puterimu yang lain tidak memperhatikan aspirasi dan kesejahteraan mereka.

Ibu, aku turut merasakan kesedihanmu saat kau membayangkan kehancuran negeri ini kelak di saat putera-puterimu kehilangan kepribadian luhurnya.

Ibu, apa yang dapat aku persembahkan padamu agar terhapus air mata duka di wajahmu..?
Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku…….

Sembah sujudku untukmu Ibu Pertiwi.
Selamat ulang tahun negeriku tercinta…….

(Doxem - Editor)

12 Agustus 2008

Tanjung Elemo-Sentani Kiri

Jika di tulisan Bu Sofy diceritakan tentang “larangan” makan pinang di bandara Sentani (lihat artikel Makan Pinang…Why Not?, editor), maka ada satu keunikan lagi di daerah Sentani yaitu tentang “kewajiban” memakai kondom di Tanjung Elemo, tulisannya terpampang jelas di gerbang masuk Jl.Tg.Elemo dan sangat mudah menarik perhatian pengguna jalan raya Jayapura-Sentani.

Tanjung Elemo itu apaan sih? Berkat tulisan “wajib kondom” jawabannya jadi mudah ditebak, pasti deh di sana tempat lokalisasi prostitusi resmi seperti ”Gang Doli” di Surabaya, ”ex Kramat Tunggak” di Jakarta, "Komplek Sunan Kuning" di Semarang, atau ”ex Jl. Saritem” di Bandung.

Koq bisa ada tempat prostitusi resmi di Sentani? Konon kabarnya Tanjung Elemo (dikenal juga dengan sebutan Sentani Kiri atau “Turki” alias Turunan ke Kiri) pertama kali dirintis oleh Ibu Sumiyati asal Surabaya sekitar tahun 1970-an untuk mengontrol penyebaran penyakit kelamin di Jayapura (kebenarannya mohon masukan dari pembaca, editor) dan sekarang sudah menjadi suatu “perkampungan” dengan predikat “Daerah 100% Wajib Kondom”.

Berapa banyak PSK-nya disana? Banyak deh... belum dapat datanya nih, tapi mereka diperiksa terus kesehatannya setiap minggu oleh dokter spesialis dari Dinas Kesehatan, mungkin bisa tanya ke dokternya tuh...

Memangnya resiko tertular penyakit kelamin di Jayapura sudah parah? Menurut Cepos sudah parah sekali, terutama resiko tertular HIV/AIDS (Catatan: Jayapura, Merauke dan Timika sekarang ini sedang jadi sorotan nasional karena angka pengidap HIV/AIDS di daerah ini tinggi sekali).

Ada pendapat yang mengatakan HIV/AIDS pertama kali masuk Papua melalui crew kapal ikan asing (terutama orang Thailand) yang biasa ”jajan” di sekitar Merauke dan penyakitnya menyebar ke daerah lain di Papua melalui PSK yang "mutasi" alias pindah tempat dinas. Ada juga yang mengatakan, penyakit ini bermula dari kebiasaan salah satu suku di daerah Pegunungan yang mengijinkan praktek sex bebas diantara warganya melalui semacam pesta adat untuk meningkatkan kesuburan wanita dan mendapatkan keturunan yang kuat, konon komunitas mereka juga melakukan ritual ini di daerah perantauan.


Apakah memakai kondom bisa mencegah kita tertular? Nah, ini perlu dijawab ahlinya.... Tapi kata kaum rohaniawan sih yang bisa mencegah kita tertular ya jangan masuk ke Tanjung Elemo kecuali cuma untuk makan ikan bakar di sana yang enak memang.

Jadi kalo kita cuma mo makan ikan bakar di Tanjung Elemo wajib pake kondom juga kah tidak Pace.....?
Aiiiiiiiiiihhh.....

(Doxem – Marcos Reynaldi)

21 Juli 2008

Makan Pinang... Why Not ?

Foto : Koleksi Pribadi

Di ruang tunggu bandara Sentani Jayapura ada yang menarik lho, di kaca pintu-pintunya tertempel stiker bertuliskan “Daerah Bebas Pinang”.

Ada apa dengan pinang ? Menurut IPTEKnet, pinang (Areca catechu L.) dengan nama lokal lainnya jambe, penang, wohan, pineng, pineung, batang mayang, batang bongka, pining, boni, gahat, gehat, kahat, taan, alosi, mamaan, nyangan, luhuto, luguto, poko rapo, amongon, bua, hua, soi, hualo, hual, soin, palm, dan winu, bahasa Inggrisnya betelnut; punya khasiat buat kesehatan antara lain : bijinya yang terasa pahit, pedas, hangat berguna untuk obat cacing (anthelmintic), peluruh kentut (antiflatulent), peluruh haid, peluruh kencing (diuretik), peluruh dahak, memperbaiki pencernaan, pengelat (astringen), pencahar (laksan); sabutnya yang terasa hangat dan pahit berguna untuk melancarkan sirkulasi tenaga, peluruh kencing, dan pencahar.

Jadi kebiasaan kita makan pinang (plus buah sirih dan sedikit kapur) sebetulnya tidak berbahaya buat kesehatan toh? Malahan banyak juga khasiatnya, sabutnya saja yang biasa kita kunyah ternyata juga berguna buat kesehatan.... hebat juga ya nenek moyang kita bikin kebiasaan sehat. Jadi kenapa di bandara Sentani kita tidak boleh makan pinang? Menurut petugasnya “Bukan karena makan pinang berbahaya buat ko pu kesehatan kawan, tapi ko pu ludah bikin bandara penuh bercak-bercak merah, ko mau nanti turis-turis mengira banyak pertumpahan darah disini kah apa?”

Mamaeee...ngeri sekaleee urusan ludah merah ini kawan...

(Doxem - Sofice M Wakris)

02 Juli 2008

Selamat Datang di Doxem Corner

Doxem itu apaan sih....?

Nama "Doxem" itu diambil dari bahasa gaul kawula muda di Jayapura untuk menyebut suatu daerah di utara Jayapura yang nama resminya Dok IX (dibaca Dok Sembilan), suatu daerah yang penduduknya kebanyakan nelayan dan pedagang dari berbagai suku bangsa di Indonesia.

Sengaja corner kita mengambil nama dari daerah ini karena terinspirasi dengan karakter penduduknya yang welcome dengan siapa saja yang datang ke sana tanpa terlalu peduli apakah dia keturunan asli Papua, pendatang dari daerah lain, atau bahkan orang asing dari negara tetangga, bagi mereka selama orang tersebut mau gaul dan periang maka dengan senang hati mereka akan menerimanya. Sebagai catatan, asimilasi antara orang Serui, Buton, Bugis dan Makassar sudah berlangsung lama di sini, jadi mungkin itu juga yang menyebabkan mereka sangat toleran meskipun identitas kesukuannya tetap terpelihara.

Nah, di corner kita ini kita juga ngobrol santai aja seperti orang-orang di Dok IX ini ya, sekedar keluar dari rutinitas kita yang bikin cape..... Nanti kalau tempat ngobrolnya udah tertata rapi kita bisa sharing tentang hal-hal di sekitar kita yang menarik buat kita obrolin termasuk kita bagi-bagi mop ("mop" itu cerita singkat yang bisa bikin kita ketawa segar, ini juga salah satu kekhasan orang-orang di Dok IX dan orang Papua umumnya pada saat ngobrol santai)
Oke deh ini saja pengantarnya.... Jangan bosen mojok di corner kita ini ya.....

(Doxem - Editor)