21 Juli 2008

Makan Pinang... Why Not ?

Foto : Koleksi Pribadi

Di ruang tunggu bandara Sentani Jayapura ada yang menarik lho, di kaca pintu-pintunya tertempel stiker bertuliskan “Daerah Bebas Pinang”.

Ada apa dengan pinang ? Menurut IPTEKnet, pinang (Areca catechu L.) dengan nama lokal lainnya jambe, penang, wohan, pineng, pineung, batang mayang, batang bongka, pining, boni, gahat, gehat, kahat, taan, alosi, mamaan, nyangan, luhuto, luguto, poko rapo, amongon, bua, hua, soi, hualo, hual, soin, palm, dan winu, bahasa Inggrisnya betelnut; punya khasiat buat kesehatan antara lain : bijinya yang terasa pahit, pedas, hangat berguna untuk obat cacing (anthelmintic), peluruh kentut (antiflatulent), peluruh haid, peluruh kencing (diuretik), peluruh dahak, memperbaiki pencernaan, pengelat (astringen), pencahar (laksan); sabutnya yang terasa hangat dan pahit berguna untuk melancarkan sirkulasi tenaga, peluruh kencing, dan pencahar.

Jadi kebiasaan kita makan pinang (plus buah sirih dan sedikit kapur) sebetulnya tidak berbahaya buat kesehatan toh? Malahan banyak juga khasiatnya, sabutnya saja yang biasa kita kunyah ternyata juga berguna buat kesehatan.... hebat juga ya nenek moyang kita bikin kebiasaan sehat. Jadi kenapa di bandara Sentani kita tidak boleh makan pinang? Menurut petugasnya “Bukan karena makan pinang berbahaya buat ko pu kesehatan kawan, tapi ko pu ludah bikin bandara penuh bercak-bercak merah, ko mau nanti turis-turis mengira banyak pertumpahan darah disini kah apa?”

Mamaeee...ngeri sekaleee urusan ludah merah ini kawan...

(Doxem - Sofice M Wakris)

02 Juli 2008

Selamat Datang di Doxem Corner

Doxem itu apaan sih....?

Nama "Doxem" itu diambil dari bahasa gaul kawula muda di Jayapura untuk menyebut suatu daerah di utara Jayapura yang nama resminya Dok IX (dibaca Dok Sembilan), suatu daerah yang penduduknya kebanyakan nelayan dan pedagang dari berbagai suku bangsa di Indonesia.

Sengaja corner kita mengambil nama dari daerah ini karena terinspirasi dengan karakter penduduknya yang welcome dengan siapa saja yang datang ke sana tanpa terlalu peduli apakah dia keturunan asli Papua, pendatang dari daerah lain, atau bahkan orang asing dari negara tetangga, bagi mereka selama orang tersebut mau gaul dan periang maka dengan senang hati mereka akan menerimanya. Sebagai catatan, asimilasi antara orang Serui, Buton, Bugis dan Makassar sudah berlangsung lama di sini, jadi mungkin itu juga yang menyebabkan mereka sangat toleran meskipun identitas kesukuannya tetap terpelihara.

Nah, di corner kita ini kita juga ngobrol santai aja seperti orang-orang di Dok IX ini ya, sekedar keluar dari rutinitas kita yang bikin cape..... Nanti kalau tempat ngobrolnya udah tertata rapi kita bisa sharing tentang hal-hal di sekitar kita yang menarik buat kita obrolin termasuk kita bagi-bagi mop ("mop" itu cerita singkat yang bisa bikin kita ketawa segar, ini juga salah satu kekhasan orang-orang di Dok IX dan orang Papua umumnya pada saat ngobrol santai)
Oke deh ini saja pengantarnya.... Jangan bosen mojok di corner kita ini ya.....

(Doxem - Editor)