Foto : Koleksi Pribadi

Di ruang tunggu bandara Sentani Jayapura ada yang menarik lho, di kaca pintu-pintunya tertempel stiker bertuliskan “Daerah Bebas Pinang”.
Ada apa dengan pinang ? Menurut IPTEKnet, pinang (Areca catechu L.) dengan nama lokal lainnya jambe, penang, wohan, pineng, pineung, batang mayang, batang bongka, pining, boni, gahat, gehat, kahat, taan, alosi, mamaan, nyangan, luhuto, luguto, poko rapo, amongon, bua, hua, soi, hualo, hual, soin, palm, dan winu, bahasa Inggrisnya betelnut; punya khasiat buat kesehatan antara lain : bijinya yang terasa pahit, pedas, hangat berguna untuk obat cacing (anthelmintic), peluruh kentut (antiflatulent), peluruh haid, peluruh kencing (diuretik), peluruh dahak, memperbaiki pencernaan, pengelat (astringen), pencahar (laksan); sabutnya yang terasa hangat dan pahit berguna untuk melancarkan sirkulasi tenaga, peluruh kencing, dan pencahar.
Jadi kebiasaan kita makan pinang (plus buah sirih dan sedikit kapur) sebetulnya tidak berbahaya buat kesehatan toh? Malahan banyak juga khasiatnya, sabutnya saja yang biasa kita kunyah ternyata juga berguna buat kesehatan.... hebat juga ya nenek moyang kita bikin kebiasaan sehat. Jadi kenapa di bandara Sentani kita tidak boleh makan pinang? Menurut petugasnya “Bukan karena makan pinang berbahaya buat ko pu kesehatan kawan, tapi ko pu ludah bikin bandara penuh bercak-bercak merah, ko mau nanti turis-turis mengira banyak pertumpahan darah disini kah apa?”
Mamaeee...ngeri sekaleee urusan ludah merah ini kawan...(Doxem - Sofice M Wakris)